UNS

Universitas Sebelas Maret Surakarta, biasa disingkat sebagai UNS, atau Universitas Sebelas Maret adalah salah satu universitas negeri di Indonesia yang berada di Kota Surakarta. Universitas yang giat membangun ini, menyediakan berbagai paket pendidikan diploma, sarjana, pascasarjana, dan doktoral.

JPTK FKIP UNS

Merupakan kampus V UNS yang beralamat di Pabelan, Sukoharjo. Kampus FKIP JPTK UNS terdapat tiga program studi yakni Pendidikan Teknik Mesin (PTM), Pendidikan Teknik Bangunan (PTB), dan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK)

Mesin Bubut

Mesin Bubut adalah suatu Mesin perkakas yang digunakan untuk memotong benda yang diputar dan pahat bergerak secara translasi

Mesin Frais

Mesin frais (Milling machine) merupakan salah satu mesin konvensional yang mampu mengerjakan suatu benda kerja dalam permukaan datar ,sisi,tegak,miring, bahkan alur roda gigi

Mesin Gerinda

Mesin gerinda adalah salah satu mesin perkakas yang digunakan untuk mengasah/memotong benda kerja dengan tujuan tertentu. Prinsip kerja mesin gerinda adalah batu gerinda berputar bersentuhan dengan benda.kerja sehingga terjadi pengikisan, penajaman, pengasahan, atau pemotongan.

Minggu, 01 November 2015

DATA ENERGI ANGIN DI BEBERAPA LOKASI DI INDONESIA


DATA ENERGI ANGIN DI BEBERAPA LOKASI DI INDONESIA
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Turbin
Dosen Pengampu : Dr. Eng. Nugroho Agung Pambudi, M.T.

















Muchamad Yusuf Adi R
K2513041


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015


A.    Pemanfaatan Energi Angin di Indonesia
Negara Indonesia  berada  di  wilayah sekitar  equator merupakan  daerah pertemuan  sirkulasi  Hadley, Walker,  dan  lokal.  Kondisi seperti ini  ditengarai memiliki  potensi angin  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk  pengembangan  energi  terbarukan,  sebagai alternatif pembangkit  listrik  yang  selama  ini  lebih  banyak menggunakan  bahan  bakar minyak bumi.
Kebutuhan energi  listrik nasional diproyeksikan meningkat sebesar 8,3%  per tahun dalam  kurun waktu 2005-2025. Dibutuhkan  tambahan  total kapasitas  listrik  sebesar  87,06  GW  khusus di  Pulau  Jawa  (Kebijakan  energi  Nasional  tahun  2010). Peningkatan konsumsi listrik nasional yang dibutuhkan tidak sebanding dengan ketersediaan energi yang  ada saat ini.  Kebutuhan  listrik  di  daerah  terpencil  masih menggunakan pembangkit  listrik energi  fosil yang  distribusi bahan  bakarnya terkendala oleh  transportasi  dan  keadaan  cuaca. Untuk  mengatasi  hal  tersebut perlu  diupayakan diversifikasi  pembangkit  listrik  dengan  sumber  energi  alternatif  yang ramah  lingkungan, salah  satunya yaitu  dengan  memanfaatkan energi angin. Untuk merealisasikan gagasan tersebut maka perlu diadakan kajian  tentang  potensi energi angina di wilayah  tersebut yang lebih mendalam.
Seperti  yang telah  diperbincangkan  di  kalangan para ilmuwan,  bahwa  peningkatan  konsentrasi GRK di  atmosfer disebabkan oleh kegiatan manusia. Hasil  penelitian  WG  III  IPCC  dalam  AR4  menyebutkan  bahwa pertumbuhan  terbesar  emisi  global  GRK  sejumlah  145%  antara  tahun  1970  hingga 2004  berasal  dari  sektor  energi.  Hal  ini  mendorong  negara-negara  di  dunia  untuk memasukkan  sektor  energi  ke  dalam  upaya  negosiasi  internasional  mengatasi perubahan  iklim.
Indonesia  sebagai  salah  satu  peserta  dalam  negosiasi  tersebut,  mendukung  upaya mitigasi  yang  tertuang  dalam  Bali Action  Plan  (2007)  dan  Copenhagen Accord (2009)  sebagai  hasil  kesepakatan  internasional  yang  pelaksanaannya  diatur  dalam UU  Nomor  32  Tahun  2009  tentang  Perlindungan  dan  Pengelolaan  Lingkungan  Hidup, Indonesia menyusun RAN  MAPI (Rencana Aksi Nasional Mitigasi Adaptasi Perubahan Iklim) yang  dikoordinir  oleh  Kementerian  Lingkungan  Hidup  (KLH)  dibantu  Bappenas dan  Dewan  Nasional  Perubahan  Iklim  (DNPI)  .
Berdasarkan laporan  KLH  bahwa  sektor energi menyumbang sebanyak 21 % emisi GRK nasional  pada  tahun  2000 nomor  2  setelah  sektor  perubahan  lahan  dan  kehutanan  (Land  Use  Change Forest) sebesar 48%. Sebagai  rencana  aksi  nasional  dalam  sektor  energi  tersebut,  pemerintah akan mengembangkan  pemanfaatan  sumber  daya  energi  terbarukan,  yaitu  radiasi  surya,  geothermal, mikrohidro,  dan  angin.  Pemanfaatan energi  alternatif  sebagai  pembangkit  listrik dengan selain  dapat  memenuhi  sebagian  kebutuhan  listrik nasional, juga merupakan pendekatan yang menguntungkan bagi  mitigasi  GRK,  salah  satunya  adalah  pembangkit  listrik  tenaga  angin  yang mengubah energi  angin  menjadi  energi  listrik .  Cara  kerja dari peralatan yang digunakan untuk mengubah energi angin menjadi energi listrik sangat  sederhana,  angin  akan mengenai sudu-sudu pada turbin dan memutar turbin,  dan selanjutnya putaran dari turbin angin tersebut akan dihubungkan  ke rotor generator,  sehingga  dapat  menghasilkan  energi  listrik.  Energi  listrik  ini  sebelum dapat dimanfaatkan akan disimpan kedalam baterai terlebih dahulu.

B.     Pengertian Angin dan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Angin  merupakan  udara  yang bergerak sebagai akibat dari rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan  tekanan udara . Angin akan selalu bergerak dari tempat yang memiliki tekanan udara tinggi ke tempat yang memiliki tekanan udara lebih rendah. Udara yang memuai karena dipanaskan akan menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, maka tekanan udara akan turun karena udaranya berkurang. Udara dingin yang ada di sekitarnya akan mengalir ke tempat yang bertekanan rendah. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di permukaan bumi udara akan menjadi panas lagi dan kembali naik. Hal tersebut dinamakan koveksi.

Adanya  perbedaaan  suhu meyebabkan  perbedaan  tekanan,  akhirnya  menimbulkan  gerakan  udara.  Sesuai hukum  boy  ballot bahwa udara selalu bergerak  dari  daerah  yang  mempunyai  tekanan  yang  lebih tinggi  ke  daerah  yang  memiliki  tekanan  lebih  rendah. Udara  akan bergerak semakin kencang apabila perbedaan tekanan semakin besar.
Pada umumnya angin  akan bertiup  di  semua  daerah  di  atas permukaan  bumi, dengan  demikian setiap  tempat  sebenarnya mempunyai  potensi  untuk  pemanfaatan  energi angin. Namun  tidak  semua tempat memiliki  angin  dengan  kecepatan  yang tinggi,  untuk  itu perlu  dilakukan  pengukuran angin  di  berbagai  tempat  dan  selanjutnya  dilakukan analisis.  Secara  umum  daerah yang memiliki struktur permukaan yang datar  akan lebih  menguntungkan  dibandingkan  daerah yang bertopografi  beragam.  Contoh  daerah  yang  memiliki  potensi kecepatan  angin  yang cukup  tinggi  adalah  daerah  lepas  pantai , pantai,    padang rumput,  dan padang  pasir.  Namun  juga ada  tempat-tempat  yang  memilik potensi untuk meningkatkan kecepatan angin  seperti di celah pegunungan, atau di daerah puncak bukit.
Khusus  untuk di Indonesia  kapasitas keseluruhan  pembangkit  listrik  yang  berasal  dari tenaga  angin  dengan  kecepatan  angin  rata-rata  sekitar 2,5 m/s  setara dengan  9  km/jam  atau  5.0 knot/jam  cocok  untuk digunakan pada  turbin  yang memiliki skala  kecil  khususnya  di daerah pesisir,  pegunungan, dan dataran terbuka.
Teknologi angin bukanlah suatu teknologi yang baru, teknologi ini telah lama digunakan.  Sekitar 5.000  tahun  yang lalu,  teknologi ini telah dikenal oleh bangsa Mesir kuno,  mereka memanfaatkan energi ini  untuk proses penggilingan gandum.  Proses penggilingan gandum  cukup  sederhana,  tenaga  putaran  kincir  angin dimanfaatkan untuk  menggantikan tenaga hewan. Dulu awalnya  gandum  digiling  menggunakan  tenaga  hewan seperti  sapi  yang  akan berjalan  mengelilingi  suatu  poros  vertikal , hewan  tersebut mendorong  batang  kayu  yang  dihubungkan dengan suatu  poros,  yang  dibawahnya  terdapat batu  berbentuk  silinder  yang  ikut  berputar,  batu  tersebut digunakan  untuk  menggiling  gandum. Seiring dengan perkembangan jaman maka tenaga hewan tersebut akan digantikan oleh putaran kincira angin.
Pemanfaatan  teknologi  energi  angin  juga  dilakukan  di  Persia ,  dimana mereka menggunakan energi angin tersebut  untuk  proses penggilingan  biji-bijian dan gandum, mereka juga memanfaatkan energi angin  untuk memompa air. Penggunaan teknologi energi angin paling maju terdapat di  Belanda yang dijuluki sebagai negeri kincir angina karena banyak dikembangkan  beragam  bentuk dari  kincir angin dimana di negara tersebut.
C.     Data Hasil Penelitian Potensi Energi Angin Di beberapa lokasi di Indonesia
Salah satu lokasi yang dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai daerah pengembangan energi terbarukan, dalam hal ini Pembangkit Listrik Tenaga Angin adalah di daerah pantai. Berikut data kecepatan angin di beberapa lokasi di Indonesia yang telah dihimpun oleh Badan Meteorologi Krimatologi dan Geofisika yang mempunyai kecepatan angin rata-rata 3.5 m/s atau lebih:

Di bawah ini merupakan tabel data mengenai perkiraan potensi energi angin di Indonesia :

D.    Data pola konsumsi energi listrik dan pola kecepatan angin daerah kepulauan dan daerah pesisir
Data konsumsi energi listrik dan pola kecepatan angin di kepulauan diambil di Pulau Sepekan Madura sedangkan daerah pesisir diambil di pesisir Kenjeran  sebagai daerah pesisir dari sebuah daratan yang cukup luas (Jawa).
Data pola konsumsi energi listrik masyarakat kepulauan dan masyarakat pesisir yang disajikan dalam bentuk grafik :
Grafik pola konsumsi masyarakat kepulauan
Grafik pola konsumsi masyarakat Kenjeran

Dari grafik di atas terlihat perbedaan yang signifikan pola konsumsi energi listrik antara masyarakat kepulauan dengan masyarakat pesisir pada besarnya daya yang digunakan. Penggunaan  daya terbesar rata-rata terjadi antara pukul 18.00 s/d 23.00.
Data pola kecepatan angin di daerah kepulauan dan di daerah pesisir :








Grafik pola angin kepulauan



Grafik pola angin Kenjeran

Dari kedua grafik di atas terlihat perbedaan pola kecepatan angin untuk bulan-bulan yang sama (Agustus-September). Angin didaerah kepulauan (Pulau Sapeken) memiliki konsistensi harian yang lebih baik dibandingkan dengan didaerah pesisir (kenjeran). Pada daerah Kenjeran terdapat jam-jam dimana angin tidak berhembus (nol), yaitu antara jam 02.00-08.00. Dibandingkan dengan kondisi angin dikepulauan pada jam-jam yang sama masih memberikan kontribusi kecepatan angin yang cukup untuk dapat menghasilkan daya listrik.













Sabtu, 06 Juni 2015

JENIS-JENIS MESIN BUBUT

JENIS-JENIS MESIN BUBUT


 Menurut jenis dan fungsinya, maka mesin bubut dapat dikelompokkan menjadi:
a. Instrumen Lathe Engine (Mesin bubut Instrumen)
Mesin bubut jenis ini biasanya digunakan untuk membuat suatu produk (benda kerja) yang kecil ukuran nya, tetapi dengan tingkat ke presisian yang tinggi dan jumlah banyak (mass product).
b. Bench Engine Lathe (Mesin Bubut Meja)
Mesin bubut ini biasanya digunakan untuk membuat produk-produk yang lebih besar dibanding kan dengan produk instrument lathe engine. Mesin bubut jenis ini dapat ditempatkan di atas bangku/meja kerja atau pun mesin yang mempunyai kaki terbuat dari baja profil dan pelat baja.
c. Standard Engine Lathe (Mesin Bubut Standar)
Mesin bubut jenis ini, selain dapat memproduksi benda kerja yang lebi besar, juga lebih panjang.
d. Gap Lathe Head Engine (Mesin Bubut Celah)
Mesin bubut ini selain dapat mengerjakan benda-benda kerja yang besar, juga dengan diameter yang relatif besa, sebab bagian alas dari mesin ini, yakni yang berdekatan dengan kepala tetap, dapat dilepas-lepas dan akan menghasil kan celah, untuk kemudian akan di tempati oleh benda kerja berdiameter besar tersebut
e. Turret Lathe Engine (Mesin Bubut Turret)
Mesin bubut jenis ini mempunyai ekor putar tetap, dimana dapat di pasangkan 6 (enam) alat potong, sesuai dengan yang dibutuh kan. Benda kerja dijepit pada chuck (cekam ber rahang tiga), alat potongnya dapat di setel sedemikian rupa sesuai dengan yang di inginkan, misalnya:
- facing     : mem bubut muka
- turning   : mem bubut rata
- cutting    : me motong
- grooving : membuat alur
- drilling   : mengebor (melubangi)
- reaming  : menghaluskan lubang
- dll.
f. Computer Numerically Control Lathe Engine – CNC Machine (Pengendalian Secara Numerik)
Sebelum mesin di operasikan, lazim nya dibuatkan suatu program (software) komputer yang sesuai bentuk benda kerja yang akan dibuat. Program ini terdiri dari sederetan instruksi-instruksi yang di kodefikasi dalam bentuk algoritma matematis, sehingga disebut: kendali numerik

Dengan mem-program kan kedudukan pahat terhadap benda kerja, tebal nya penyayatan,panjang yang akan dibubut, diameter yang di inginkan, dll, maka mesin jenis ini akan bekerja secara otomatis.

BAGIAN-BAGIAN MESIN BUBUT

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MESIN BUBUT
Secara umum komponen utama dari mesin bubut   



Penjelasan Singkat:
a. Headstock  (Kepala Tetap)
Kepala tetap berada di bagian atas dari mesin bubut, selain itu kepala tetap dihubungkan dengan poros spindel dan disekitar nya terdapat gear box (rumah roda gigi), handel-handel pengatur kecepatan, pembalik hantaran. Juga disekitar nya akan terdapat daftar hantaran, tabel ulir, baik yang metrik maupun dalam satuan inci.
b. Tailstock (Ekor atau Kepala Lepas)
Tailstock ditempatkan pada bed engine (alas), dimana fungsinya sebagai alat bantu untuk melakukan pembubutan yang panjang, melakukan pem boran dan membuat tirus atau pun konis.
c. Lathe Engine Bed (Alas Mesin Bubut)
Biasanya alas sebuah mesin bubut terbuat dari bahan besi cor kelabu, dimana ke-2 (dua) sisi bagian luarnya berbentuk “V” yang berfungsi selain tempat berjalan nya eretan, juga sebagai tempat kedudukan tailstock. Bagian atas dari alas dibuat se halus/licin mungkin, agar mempermudah gerakan dari eretan. Permukaan luar yang berbentuk V tersebut, biasanya di hardening (diperkeras), dengan tujuan agar kuat menahan gesekan dari eretan dan tailstock yang selalu berada diatas nya. 
e. Carriage (Eretan)
Secara umum sebuah mesin bubut dilengkapi oleh 2 (dua) buah eretan, yakni satu eretan atas dan satu eretan bawah (lihat gambar berikut ini).

Eretan atas ini bergerak melintang, yakni dari depan ke belakang, sedangkan eretan bawah akan bergerak secara horizontal, yakni pada bidang mendatar.

MESIN BUBUT

MESIN BUBUT



                
Karena salah satu jenis mesin-mesin perkakas yang paling sering digunakan karena kegunaan nya yang begitu luas adalah mesin bubut, maka dibawah ini masalah mesin bubut masih akan lebih disoroti lagi, agar lebih dipahami.
Mesin bubut, termasuk mesin perkakas dengan gerak utama berputar. Hal ini disebut gerak utama berputar, karena pada saat beroperasi, benda kerja nya yang berputar.

A. FUNGSI DAN UKURAN MESIN BUBUT
                 Fungsi mesin bubut adalah untuk memotong/menghilangkan sebahagian dari benda kerja dengan gerak berputar, sehingga pada akhirnya menjadi benda/produk yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsi nya.
Adapun jenis-jenis kegiatan yang dapat dikerjakan pada mesin bubut adalah:
- membubut lurus
- membubut tirus atau konis
- membubut alur
- membor
- membuat ulir
- meng-kartel
- me-reamer
- mengetap
- menyenai
- menggrinda
-dll.

B. JENIS-JENIS MESIN BUBUT
               Menurut jenis dan fungsinya, maka mesin bubut dapat dikelompokkan menjadi:
a. Instrumen Lathe Engine (Mesin bubut Instrumen)
Mesin bubut jenis ini biasanya digunakan untuk membuat suatu produk (benda kerja) yang kecil ukuran nya, tetapi dengan tingkat ke presisian yang tinggi dan jumlah banyak (mass product).
b. Bench Engine Lathe (Mesin Bubut Meja)
Mesin bubut ini biasanya digunakan untuk membuat produk-produk yang lebih besar dibanding kan dengan produk instrument lathe engine. Mesin bubut jenis ini dapat ditempatkan di atas bangku/meja kerja atau pun mesin yang mempunyai kaki terbuat dari baja profil dan pelat baja.
c. Standard Engine Lathe (Mesin Bubut Standar)
Mesin bubut jenis ini, selain dapat memproduksi benda kerja yang lebi besar, juga lebih panjang.
d. Gap Lathe Head Engine (Mesin Bubut Celah)
Mesin bubut ini selain dapat mengerjakan benda-benda kerja yang besar, juga dengan diameter yang relatif besa, sebab bagian alas dari mesin ini, yakni yang berdekatan dengan kepala tetap, dapat dilepas-lepas dan akan menghasil kan celah, untuk kemudian akan di tempati oleh benda kerja berdiameter besar tersebut
e. Turret Lathe Engine (Mesin Bubut Turret)
Mesin bubut jenis ini mempunyai ekor putar tetap, dimana dapat di pasangkan 6 (enam) alat potong, sesuai dengan yang dibutuh kan. Benda kerja dijepit pada chuck (cekam ber rahang tiga), alat potongnya dapat di setel sedemikian rupa sesuai dengan yang di inginkan, misalnya:
- facing     : mem bubut muka
- turning   : mem bubut rata
- cutting    : me motong
- grooving : membuat alur
- drilling   : mengebor (melubangi)
- reaming  : menghaluskan lubang
- dll.
f. Computer Numerically Control Lathe Engine – CNC Machine (Pengendalian Secara Numerik)
 Sebelum mesin di operasikan, lazim nya dibuatkan suatu program (software) komputer yang sesuai bentuk benda kerja yang akan dibuat. Program ini terdiri dari sederetan instruksi-instruksi yang di kodefikasi dalam bentuk algoritma matematis, sehingga disebut: kendali numerik
Dengan mem-program kan kedudukan pahat terhadap benda kerja, tebal nya penyayatan,panjang yang akan dibubut, diameter yang di inginkan, dll, maka mesin jenis ini akan bekerja secara otomatis.

C. PERBEDAAN  ANTARA  BUBUT  TURET  DENGAN  BUBUT  MESIN
                Perbedaan utama antara ke dua mesin ini adalah bahwa bubut turet disesuaikan untuk pekerjaan memproduksi dalam jumlah yang banyak (mass product), sedangkan mesin bubut, terutama digunakan untuk berbagai penugasan, ruang perkakas atau pekerjaan operasi terbatas. Ciri utama dari mesin bubut turet adalah:
a. Pahat dapat dikunci secara permanen dalam turet pada urutan yang sesuai dari penggunaan nya.
b. Setiap pos dilengkapi dengan penghenti hantaran atau pelompat hantaran, sehingga masing-masing pemotongan oleh pahat berikut nya akan selalu sama dengan pemotongan sebelumnya.
c. Pemotongan majemuk dapat diambil dari pos yang sama, misal nya pembubutan dan/atau pemotongan lubang sebanyak dua buah atau lebih.
d. Pemotongan kombinasi dapat dibuat, yaitu dengan menggunakan pahat peluncur dan pada saat yang bersamaan pahat turet yang memotong.
e. Kekakuan yang berlebihan dalam memegang benda kerja dan pahat nya da adaptasikan kepada mesin nya, sehingga memungkinkan untuk pemotongan jamak dan kombinasi
f. Dimungkinkan untuk menambahkan peralatan bantu, misalnya untuk keperluan bubut tirus, pemotongan ulir, membuat duplikat, dll.

D. BAGIAN-BAGIAN UTAMA MESIN BUBUT
                 

Penjelasan Singkat:
a. Headstock  (Kepala Tetap)
Kepala tetap berada di bagian atas dari mesin bubut, selain itu kepala tetap dihubungkan dengan poros spindel dan disekitar nya terdapat gear box (rumah roda gigi), handel-handel pengatur kecepatan, pembalik hantaran. Juga disekitar nya akan terdapat daftar hantaran, tabel ulir, baik yang metrik maupun dalam satuan inci.
b. Tailstock (Ekor atau Kepala Lepas)
Tailstock ditempatkan pada bed engine (alas), dimana fungsinya sebagai alat bantu untuk melakukan pembubutan yang panjang, melakukan pem boran dan membuat tirus atau pun konis.
c. Lathe Engine Bed (Alas Mesin Bubut)
Biasanya alas sebuah mesin bubut terbuat dari bahan besi cor kelabu, dimana ke-2 (dua) sisi bagian luarnya berbentuk “V” yang berfungsi selain tempat berjalan nya eretan, juga sebagai tempat kedudukan tailstock. Bagian atas dari alas dibuat se halus/licin mungkin, agar mempermudah gerakan dari eretan. Permukaan luar yang berbentuk V tersebut, biasanya di hardening (diperkeras), dengan tujuan agar kuat menahan gesekan dari eretan dan tailstock yang selalu berada diatas nya. 
e. Carriage (Eretan)
Secara umum sebuah mesin bubut dilengkapi oleh 2 (dua) buah eretan, yakni satu eretan atas dan satu eretan bawah (lihat gambar berikut ini).
Eretan atas ini bergerak melintang, yakni dari depan ke belakang, sedangkan eretan bawah akan bergerak secara horizontal, yakni pada bidang mendatar.

E. TABEL  KECEPATAN  POTONG  KHUSUS 
                 Berikut ini akan diberikan sebuah tabel Kecepatan Potong yang diperoleh dari hasil empiris untuk material benda kerja yang sering digunakan dan material pahat tertentu. Bila dikatakan kasar, maka ini berarti: kegiatan pembubutan awal dari benda kerja, sedangkan bila dikatakan selesai, maka ini berarti: kegiatan akhir dari pembubutan benda kerja.




No


Material Benda Kerja

Pahat HSS

Pahat Karbida
Kasar
Selesai
Kasar
Selesai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Baja Karbon 1010,1025
Baja medium
Baja Pemotong bebas
Baja Nikel 2330
Chrom Nikel 3120,5140
Besi Cor Kelabu
Kuningan
Aluminium
Plastik
25      ¸      40
20      ¸      40
25      ¸      45
20      ¸      35
15      ¸      25
25      ¸      30
40      ¸      70
30      ¸      35
30      ¸      60

70      ¸      90
60      ¸      85
75      ¸    110
60      ¸      85
45      ¸      60
40      ¸      45
85     ¸     110
70     ¸     110
90     ¸     150
90     ¸     120
75     ¸     110
110   ¸     140
70     ¸     100
55     ¸       80
60     ¸       75
120   ¸     150
60     ¸       90
45     ¸       75
170    ¸    215
140    ¸    185
185    ¸    230
130    ¸    170
100    ¸    130
110    ¸    140
185    ¸    215
140    ¸    215
120    ¸    200


E. MACAM-MACAM  OPERASI  PEMBUBUTAN.
                     Seperti telah disinggung diatas, bahwa operasi pembubutan adalah beraneka ragam, mencakup membubut, pemboran, pengerjaan tepi, penguliran dan pembubutan tirus. Berikut ini akan diuraikan secara ringkas beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan mesin bubut.

a). Pembubutan Silindris.
                Cara yang paling umum untuk menyangga /menopang benda kerja, khususnya benda kerja yang berputar adalah dengan menempatkan penopang (support) di antara ke-2 center nya. Keuntungan nya adalah dapat dan mampu menahan pemotongan berat serta sangat sesuai untuk benda kerja yang panjang. Karena di support di antara ke-2 ujungnya, maka selalu akan berputar seragam dengan spindelnya, kecuali dikehendaki lain, maka diperlukan penyetelan yang lain.
                 Center kepala tetap (head stock) berputar ber sama-sama dengan benda kerja, sehingga tidak ada gesekan, tidak timbul panas, tidak diperlukan pelumasan/pendinginan.

b). Pengerjaan Tepi (facing)
                  Bila sebuah permukaan akan di potong  menggunakan mesin bubut, maka operasi nya disebut pengerjaan tepi.Benda kerja, biasa nya dipegang pada plat muka atau di dalam pencekam, tetapi dalam beberapa kasus, pengerjaan tepi juga dilakukan dengan benda kerja berada di antara kedua pusat mesin nya. Pemotongan dilakukan secara tegak lurus terhadap sumbu putaran, maka kereta luncur nya harus di kunci dengan benar pada bangku pembubut untuk mencegah timbulnya gerakan arah aksial.

c). Pembubutan Tirus
                   Ada banyak suku cadang (part & component) mempunyai permukaan yang tirus, ketirusan nya pun bervariasi, misalnya tirus curam (roda payung), tirus landai yang terdapat pada mandril pembubut.
Conto-contoh dari pengerjaan tirus adalah: tangkai dari gurdi ulir, ujung frais, pembesar lubang (reamer), arbor dan perkakas-perkakas lain nya.

Dalam praktek komersial, ada beberapa standard ketirusan yang umum digunakan, misalnya:
· Tirus Morse
Banyak digunakan untuk tangkai gurdi, collet (leher) pembubut dan center pembubut, ketirusan nya adalah 0,0502 mm/mm (» 5,02 %).
· Tirus Brown dan Sharpe
Tirus ini terutama digunakan untuk mem-frais spindel mesin, dimana ketirusan nya mencapai sekitar 0,0417 mm/mm (» 4,17 %).
· Tirus Jarno dan Reed
Biasanya digunakan oleh beberapa fabrik pembubut dan perlengkapan penggurdi kecil, dimana ketirusan nya mencapai 0,05 mm/mm (» 5 %).
· Pena Tirus
Sering digunakan sebagai pengunci, dimana ketirusan nya 0,0208 mm/mm (» 2,08 %).

d. Membubut Ulir
              Meskipun dimungkinkan untuk membubut atau memotong ulir dalam segala bentuk, namun mesin bubut biasnya dipilih kalau hanya sedikit ulir yang akan dibuat atau apabila di ingin kan bentuk ulir khusus.
Biasanya hampir pada setiap mesin bubut telah tersedia mekanisme pembubutan ulir dan instruksi tersebut sudah juga disertakan pada panel mesin bubut nya. Sehingga hanya dengan memilih dan  menarik tuas yang di inginkan, maka mesin akan bekeja untuk membuat ulir sesuai dengan yang di harapkan. Metode lain untuk mendapatkan bentuk ulir adalah dengan menggrinda pahat menjadi bentuk yang sesuai dengan bentuk ulir yangdiharapkan.
Misalnya akan membuat ulir dengan bentuk “V”, maka biasanya dapat dilakukan dengan 2 (dua) metode hantaran pahat. Yang pertama, pahat dapat dihantarkan lurus ke dalam benda kerja dan ulir dibentuk dengan melakukan sederetan pemotongan ringan. Aksi pemotongan nya terjadi pada kedua sisi pahat yang digunakan. Yang kedua, yaitu dengan menghantarkan pahat masuk dengan sudut   tertentu. Umumnya  pahat   nya  diberi   hantaran   positif  sepanjang  benda  kerja, dimana

kecepatan putaran mesin disesuaikan untuk memotong sejumlah ulir yang di inginkan.    Hal  ini dapat dicapai dengan sederetan roda gigi yang terdapat/terletak dibagian ujung mesin bubut, menggerakkan ulir pengarah yang dihubungkan dengan spindel headstock pada kecepatan yang di inginkan.
Setelah mesin bubut disetel, sebuah ulir hantaran menyilang disetel pada suatu tanda di micrometer dial dan diambil suatu pemotongan yang ringan untuk memeriksa jarak bagi dari ulir. Pada akhir dari setiap pemotongan yang ber urutan, pahat dikeluarkan dari ulir dengan cara memutar ke belakang ulir hantaran menyilang nya. Hal ini diperlukan karena setiap pemutaran balik dalam ulir pengarah, akan dapat mencegah pengembalian pahat dalam pemotongan sebelum nya. Pahat kemudian dikembalikan ke kedudukan selanjutnya untuk mebuat ulir berikut, demikian seterus nya.